Penajam – Sebanyak 200 pelaku seni tampil dalam Pagelaran Sang Askarya 2026 di Alun-Alun Penyembolum, Penajam Paser Utara (PPU), Sabtu (12/9/2026) malam. Pertunjukan tahun kedua ini menyatukan 25 koreografi dalam satu panggung, dengan penampil dari usia PAUD hingga dewasa.
Budaya dari berbagai wilayah Indonesia ikut dibawa ke panggung. Sulawesi, Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Papua dirangkai dalam pertunjukan yang berlangsung sekitar satu jam.
Staf Ahli Bupati PPU Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Margono Hadi Sutanto, yang mewakili Bupati PPU Mudyat Noor, mengatakan Sang Askarya menjadi ruang bagi seniman untuk berkarya sekaligus menjaga identitas budaya daerah.
Menurutnya, geliat seni budaya juga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi kreatif. Pemkab PPU akan terus memberi ruang bagi pelaku seni dan komunitas untuk mengembangkan karya.
“Yang kita tampilkan dan ciptakan malam ini menjadi perjalanan yang akan menjadi warisan bagi generasi mendatang,” kata Margono.
Ia menyebut perkembangan PPU sebagai gerbang IKN membawa perubahan yang perlu diimbangi dengan penguatan identitas daerah. Ruang berkesenian dinilai penting agar karya lokal tetap tumbuh di tengah perkembangan daerah.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Safwana, mengapresiasi dukungan Kementerian Kebudayaan melalui aspirasi Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Timur, Hetifah Sjaifudian, sehingga pagelaran tersebut dapat terlaksana.
“Penampilannya tadi mewakili budaya dari timur sampai barat Indonesia. Penari lokal dari usia PAUD sampai dewasa melebur jadi satu. Budaya Sulawesi, Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Papua semua dihadirkan,” ujarnya.
Menurut Safwana, antusiasme pelaku seni juga terlihat dari dukungan orangtua yang mendampingi anak-anak mereka selama mengikuti sanggar.
Disbudpar PPU menargetkan Sang Askarya dapat berlanjut sebagai agenda tahunan. Koordinasi dengan Kementerian Kebudayaan akan dilakukan agar pagelaran tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan tahun kedua.
“Harapannya ini menjadi agenda tahunan. Pemerintah daerah tetap memberi ruang bagi para pelaku seni untuk menunjukkan kreativitas,” katanya.
Sutradara Sang Askarya 2026, Ary Febrian Masis, mengatakan persiapan pertunjukan dilakukan secara intensif selama sebulan terakhir.
Para pelaku seni sebelumnya telah mendapat informasi mengenai pagelaran tersebut, lalu menjalani latihan secara lebih padat menjelang pementasan.
“Latihan sebulan full. Kami sudah tahu jauh hari, cuma intens di sebulan terakhir. Akhirnya bisa sepecah ini, luar biasa,” kata Ary.
Sang Askarya menjadi puncak agenda tahunan Sanggar Seni Borneo Benuo Taka. Ary menyebut sanggar tetap memiliki berbagai agenda pertunjukan lain sepanjang tahun.
Untuk pagelaran berikutnya, ia ingin skala pertunjukan diperbesar. Tidak hanya melibatkan lebih banyak pelaku seni dari PPU, tetapi juga membuka kolaborasi dengan seniman dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.
“Tahun depan kami ingin lebih kreatif dan lebih di-upgrade. Kalau bisa melibatkan 1.000 pelaku seni, kami kolaborasikan PPU sendiri dan membuka seluruh Kalimantan Timur,” ujarnya.
(ADV)














