Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Advertorial

Petep Pengiring Belian Adat Nondoi Paser Jadi WBTB Nasional, Disbudpar PPU Perkuat Pengenalan ke Generasi Muda

20
×

Petep Pengiring Belian Adat Nondoi Paser Jadi WBTB Nasional, Disbudpar PPU Perkuat Pengenalan ke Generasi Muda

Sebarkan artikel ini

Penajam – Alat musik pengiring ritual Belian Adat Nondoi Paser, Petep, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada 3 Juli 2026.

Plh Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Budi Setyo, mengatakan Petep sebelumnya lebih banyak digunakan dalam ritual Belian. Penggunaannya kini berkembang untuk pembukaan festival dan pertunjukan seni.

“Petep itu asalnya alat musik ritual pengiring Belian. Sekarang mulai digunakan untuk pembukaan festival dan tampilan seni pertunjukan lainnya,” kata Budi, belum lama ini.

Petep merupakan alat musik perkusi tradisional Suku Paser. Alat ini dibuat dari batang kayu berbentuk bulat yang bagian atasnya dilubangi, kemudian ditutup kulit hewan dan dikencangkan menggunakan rotan. Dalam ritual Belian, Petep dimainkan bersama klentangan dan gendang.

Penggunaannya dalam berbagai kegiatan kebudayaan juga membuat Petep mulai dikenal sebagai alat musik pembuka di PPU. Disbudpar menyebutnya sebagai salah satu ciri khas daerah, sebagaimana gong yang digunakan di sejumlah daerah lain.

Pengajuan Petep sebagai WBTB dilakukan sejak sekitar setahun lalu. Pengajuan pertama belum berhasil karena persoalan dokumentasi. Setelah kelengkapan administrasi diperbaiki, Petep akhirnya ditetapkan sebagai WBTB Nasional.

“Sekarang sudah masuk, dan beberapa kali Petep ditampilkan saat Pekan Kebudayaan Daerah tingkat provinsi maupun kegiatan Duta Budaya,” ujarnya.

Budi mengatakan penetapan WBTB juga berkaitan dengan kebutuhan regenerasi. Saat ini masih terbatas generasi muda yang mengenal Petep, termasuk pola ritme dan teknik memainkannya.

Disbudpar PPU akan memperluas pengenalan Petep melalui sekolah, komunitas dan pelaku seni budaya. Petep juga akan lebih sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan.

“Petep perlu lebih sering dikenalkan kepada generasi muda melalui sekolah, komunitas dan pelaku seni budaya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *