Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
AdvertorialDaerahPenajamTerkini

Rembuk Wisata PPU Digelar di Destinasi, Pengelola Bakal Dibekali Materi Keselamatan

10
×

Rembuk Wisata PPU Digelar di Destinasi, Pengelola Bakal Dibekali Materi Keselamatan

Sebarkan artikel ini

Penajam – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan konsep untuk Rembuk Wisata 2026. Forum yang biasanya digelar di hotel atau gedung pertemuan direncanakan berlangsung langsung di kawasan destinasi wisata.

Konsep itu tidak sekadar memindahkan lokasi kegiatan, dari yang sebelumnya kerap digelar di perhotelan.

Disbudpar PPU ingin forum yang mempertemukan pengelola destinasi dan pelaku pariwisata tersebut lebih dekat dengan kondisi lapangan, termasuk membahas keselamatan wisata.

Kepala Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar PPU, Yudhistira Arlianta, mengatakan lokasi yang disiapkan adalah Wisata Pemancingan Andromeda di Desa Giripurwa, Kecamatan Penajam.

Menurut dia, kawasan tersebut dinilai cukup representatif setelah sebelumnya menjadi lokasi pengawasan dan pembinaan Disbudpar.

“Namanya rembuk wisata, kami ingin pelaksanaannya memang di destinasi wisata. Jadi tidak hanya duduk di hotel, tetapi bisa melihat langsung kondisi dan kebutuhan pengelola di lapangan,” kata Yudhistira.

Rembuk wisata nantinya mempertemukan sekitar 13 hingga 14 Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dari berbagai destinasi di PPU.

Forum tersebut menjadi ruang bagi pengelola untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi sekaligus mendapatkan penguatan dalam pengelolaan destinasi.

Salah satu materi yang disiapkan adalah aksi keselamatan wisata bagi para pengelola. Materi ini menjadi penting karena pengelola destinasi berhadapan langsung dengan aktivitas wisatawan di lapangan, termasuk dalam mengantisipasi risiko keselamatan selama kunjungan.

“Selain keselamatan, forum ini ada untuk membahas kebutuhan pengembangan masing-masing destinasi, tantangan pengelolaan, pembinaan hingga penguatan manajemen pariwisata,” katanya.

Masukan dari para pengelola, kata dia, menjadi bahan bagi pemerintah daerah untuk melihat kebutuhan destinasi secara lebih nyata.

“Yang kami bahas bukan hanya program dari dinas. Pengelola juga bisa menyampaikan apa yang menjadi kendala dan kebutuhan di destinasi masing-masing, sehingga pembinaannya bisa lebih tepat,” ujar Yudhistira.

Konsep itu sekaligus menjadi upaya Disbudpar PPU membangun komunikasi yang lebih dekat dengan Pokdarwis dan pelaku usaha pariwisata.

Pemerintah daerah dapat melihat persoalan di lapangan, sementara pengelola memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan secara langsung.

Pelaksanaan Rembuk Wisata 2026 tetap ditargetkan tetap terlaksana. Namun, jadwalnya menyesuaikan agenda Disbudpar PPU yang saat ini juga tengah mempersiapkan pelaksanaan Festival Nondoi.

Yudhistira menegaskan Nondoi merupakan agenda bersama Disbudpar PPU, bukan hanya menjadi tanggung jawab bidang kebudayaan. Terlebih, agenda tersebut tengah diarahkan untuk masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN), sehingga membutuhkan dukungan lintas bidang.

Setelah rangkaian persiapan Nondoi berjalan, rembuk wisata akan dilanjutkan sebagai forum untuk memperkuat pengelolaan destinasi dan meningkatkan kesiapan pelaku pariwisata di PPU.

“Rembuk ini kami harapkan menjadi ruang untuk menyamakan kebutuhan dan memperkuat pengelolaan wisata. Tujuannya bagaimana destinasi bisa berkembang dan ikut menggerakkan ekonomi daerah,” jelas Yudhistira. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *