Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
PendidikanSamarindaTerkini

Upaya Cegah Kekerasan Seksual Sejak Dini : FISIPERS Inisiasi Kegiatan Sosialisasi di SDN 006 Samarinda

214
×

Upaya Cegah Kekerasan Seksual Sejak Dini : FISIPERS Inisiasi Kegiatan Sosialisasi di SDN 006 Samarinda

Sebarkan artikel ini

SAMARINDA – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman melaksanakan program sosialisasi pada Jumat, 22 Mei 2026 mengenai pencegahan kekerasan seksual yang terjun langsung kepada anak-anak di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 006 Samarinda. Langkah ini diambil sebagai bentuk kontribusi serta daripada upaya nyata mahasiswa untuk membawa perubahan pada masyarakat dengan menumbuhkan pemahaman sejak masih dalam usia yang tergolong anak-anak.
Latar belakang yang menjadi alasan diangkatnya isu pencegahan kekerasan seksual ini berdasar dari kajian FISIPERS terhadap tingginya angka kasus kekerasan serta pelecehan seksual di Kota Samarinda saat ini. Pemilihan SDN 006 Samarinda sebagai lokasi sosialisasi ditentukan karena sekolah tersebut berada di salah satu wilayah yang mencatatkan tingkat kerawanan kasus kekerasan seksual yang cukup tinggi di Samarinda berdasarkan data yang dimiliki oleh FISIPERS. Selanjutnya, FISIPERS menilai fenomena di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar anak yang menjadi korban justru tidak memahami bahwa tindakan yang mereka alami merupakan bentuk pelecehan, terlebih jika tindakan tersebut dilakukan oleh orang-orang terdekat di sekitar mereka. Oleh karena itu, jenjang Sekolah Dasar dipilih sebagai target paling tepat karena menjadi institusi pendidikan pertama bagi anak untuk memahami batasan privasi tubuh dan meningkatkan kewaspadaan. Yofa Destari selaku Ketua Umum UKM FISIPERS menyampaikan dalam wawancara “Setidaknya kami ingin siswa-siswi terlebih pada usia yang masih terbilang muda dapat memahami privasi-privasinya.” Tuturnya.
Pada perencanaan awal kegiatan ini, program sosialisasi awalnya ditargetkan bagi siswa-siswi pada rentang kelas 4 hingga kelas 6. Namun, dalam pelaksanaannya, sasaran bergeser hanya untuk murid kelas 4 dan kelas 5 saja dikarenakan siswa kelas 6 telah lulus dari sekolah. FISIPERS memilih rentang kelas tersebut karena pada usia tersebut, anak-anak dianggap sudah mampu menyerap dan memahami materi dengan baik. Selain itu, anak-anak pada jenjang kelas 4 dan 5 sebagian besar telah mulai memasuki masa pubertas, sehingga pemberian pemahaman terkait materi ini dianggap sudah tepat. Yofa juga menyampaikan mengenai keluhan sebagai Mahasiswa, “Sebagian besar korban justru tidak paham itu adalah bentuk pelecehan, terlebih jika pelakunya adalah orang terdekat. Memberikan pemahaman pada anak SD saat ini adalah upaya yang dapat kami lakukan sebagai mahasiswa.” Tegas Yofa.
Agar materi tersampaikan secara profesional dengan pendekatan yang tepat, Fisipers berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait, di antaranya Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA) Kota Samarinda, Forum Anak, serta beberapa psikolog yang memiliki keahlian mendalam terkait materi ini. Dalam program kerja ini, FISIPERS menghadirkan Ibu Ayunda Ramadhani, M.Psi., Psikolog, selaku psikolog ahli dari DP2PA

Samarinda sebagai narasumber utama untuk memaparkan materi langsung kepada anak-anak. Selama sosialisasi berlangsung, para siswa didampingi secara penuh oleh guru-guru serta kepala sekolah untuk membantu menjaga fokus anak-anak terhadap materi yang disajikan. Antusiasme para siswa di SDN 006 Samarinda menunjukkan respons yang sangat interaktif dan aktif, baik pada sesi penyampaian materi maupun saat sesi tanya jawab berlangsung. Dari hasil penilaian melalui respons siswa saat tanya jawab dan hasil pre test serta post test, terlihat jelas bahwa mereka telah berhasil memahami isi materi pencegahan yang diberikan, hal ini menjadi pencapaian utama yang diharapkan oleh pihak panitia, hal ini disampaikan oleh Meisya Amalia Karim selaku Ketua Panitia kegiatan ini, “Respons positif juga datang dari pihak sekolah yang mendukung penuh jalannya kegiatan, bahkan mereka mengharapkan adanya keberlanjutan dari edukasi serupa di masa mendatang.” Ujarnya. FISIPERS berharap agar kegiatan edukasi dan penyadaran mengenai isu sosial seperti ini dapat lebih sering digencarkan di tengah masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *