Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
AdvertorialDaerahPenajamTerkini

Usai Ritual Nondoi, Disbudpar PPU Lanjutkan Agenda Budaya Lewat Festival Seni

12
×

Usai Ritual Nondoi, Disbudpar PPU Lanjutkan Agenda Budaya Lewat Festival Seni

Sebarkan artikel ini

Penajam – Festival Seni Budaya Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) disiapkan sebagai agenda lanjutan setelah Festival Belian Adat Paser Nondoi. Jeda pelaksanaannya hanya dua hari, tetapi kedua agenda tersebut memiliki fokus berbeda.

 

Festival Nondoi menempatkan ritual adat sebagai inti kegiatan. Sementara Festival Seni Budaya diarahkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan sekaligus berkompetisi dalam seni budaya.

 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Safwana, mengatakan kedekatan waktu pelaksanaan membuat kedua agenda masih memiliki keterkaitan sebagai rangkaian penguatan kebudayaan daerah. Meski begitu, penyelenggaraannya tetap dipisahkan.

 

“Setelah Nondoi selesai, dua hari kemudian dilanjutkan Festival Seni Budaya. Jadi rangkaiannya berdekatan, tetapi kepanitiaan dan pelaksanaannya tetap berbeda,” ujar Safwana, Rabu (21/10/2026).

 

Festival Nondoi dijadwalkan berlangsung selama empat hari empat malam.

 

Setelahnya, Festival Seni Budaya digelar dengan konsep yang lebih menitikberatkan pada perlombaan.

 

Sejumlah cabang lomba disiapkan, di antaranya fashion show, tari kreasi Nusantara dan vokal. Konsep tersebut masih dimatangkan Disbudpar bersama Lembaga Adat Paser (LAP).

 

Menurut Safwana, pemisahan konsep diperlukan agar masing-masing agenda memiliki karakter yang jelas.

 

Nondoi tetap menempatkan ritual adat sebagai ruh kegiatan, sedangkan Festival Seni Budaya memberi ruang lebih besar bagi ekspresi dan kompetisi seni.

 

“Dua-duanya tetap berada dalam ruang kebudayaan. Bedanya, Nondoi berpusat pada ritual adat, sedangkan Festival Seni Budaya mengangkat perlombaan seni yang berkaitan dengan budaya,” kata dia.

 

Festival Seni Budaya juga membuka ruang keterlibatan lintas usia. Kategori perlombaan akan disesuaikan mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa.

 

Disbudpar PPU bersama LAP masih mematangkan konsep dan teknis pelaksanaan agar festival tidak sekadar menjadi agenda hiburan, tetapi tetap memiliki muatan seni dan budaya daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *