Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
AdvertorialDaerahPenajam

Disbudpar PPU Ungkap Tantangan Bawa Nondoi ke KEN, Terikat Jadwal Ritual Adat

4
×

Disbudpar PPU Ungkap Tantangan Bawa Nondoi ke KEN, Terikat Jadwal Ritual Adat

Sebarkan artikel ini

Penajam – Niat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) membawa Festival Belian Adat Paser Nondoi masuk Karisma Event Nusantara (KEN) dihadapkan pada tantangan.

Salah satu yang harus diselesaikan pihak dinas ialah menyesuaikan kebutuhan kalender pariwisata dengan ketentuan waktu dalam ritual adat Nondoi.

Persoalannya, Nondoi tidak bisa ditetapkan hanya berdasarkan kebutuhan kalender event. Waktu dan durasi pelaksanaannya berkaitan dengan hitungan adat yang menjadi bagian dari ritual tersebut.

Kepala Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar PPU, Yudhistira Arlianta, mengatakan persoalan jadwal menjadi salah satu hal yang harus dibicarakan bersama lembaga adat jika Nondoi hendak dibawa ke level nasional.

“Budayanya tetap menjadi dasar. Tetapi dari sisi pariwisata, kami juga harus memikirkan bagaimana event ini bisa dipromosikan dengan baik,” katanya, Selasa (20/10/2026).

Ketentuan kalender event pariwisata mengharuskan agenda yang telah ditetapkan memiliki kepastian waktu.

Sementara Festival Nondoi memiliki mekanisme adat yang dapat memengaruhi penentuan tanggal maupun durasi pelaksanaannya.

Kondisi itu membuat Disbudpar PPU tidak ingin mengambil keputusan sendiri. Pembahasan bersama pihak lembaga adat akan dilakukan untuk mencari format yang memungkinkan Nondoi memenuhi kebutuhan promosi pariwisata tanpa menggeser ketentuan ritual.

Yudhistira menyebut pendekatan serupa dapat dilihat pada sejumlah event budaya yang berkembang menjadi agenda pariwisata.

Nilai tradisinya tetap dipertahankan, sementara pengemasannya disesuaikan agar dapat dikenal lebih luas.

“Mindset budaya tetap harus diutamakan, tetapi kita juga perlu punya cara pandang pariwisata,” ujar dia.

Pembahasan tersebut menjadi tahap penting sebelum Nondoi didorong lebih jauh dalam kurasi KEN.

Disbudpar PPU ingin pengembangan event tidak membuat ritual kehilangan identitas, tetapi justru membuka ruang lebih besar bagi Nondoi dikenal sebagai kekayaan budaya daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *