Penajam – Festival Belian Adat Paser Nondoi di Penajam Paser Utara (PPU) tahun ini diarahkan lebih melibatkan pelaku seni budaya dari tingkat kecamatan. Bupati PPU menginginkan empat kecamatan ikut mengambil bagian dalam pertunjukan budaya selama rangkaian festival.
Pamong Budaya Ahli Muda Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Budi Setyo, mengatakan keterlibatan pelaku budaya selama ini memang menjadi bagian dari rangkaian Festival Nondoi, terutama pada seremoni pembukaan dan hiburan sebelum ritual Belian dimulai.
“Koordinasi dengan pelaku budaya itu keterlibatannya pada hiburan. Saat seremoni pembukaan biasanya ada tari dari sanggar seni atau tari kolosal. Pada malam pelaksanaan Nondoi juga biasanya ada hiburan seni budaya sebelum ritual Belian,” kata Budi, Senin (21/9/2026).
Pertunjukan seni tersebut biasanya digelar sebelum pukul 22.00 Wita, sebelum ritual Belian dimulai.
Untuk pelaksanaan tahun ini, Budi menyebut ada arahan Bupati agar keterlibatan seni budaya diperluas dengan melibatkan empat kecamatan.
Bentuk penampilannya masih akan dibahas, termasuk kemungkinan sanggar seni yang berada di masing-masing kecamatan ikut tampil.
“Keinginan Bupati tahun ini ada pelibatan empat kecamatan. Mungkin dari tambahan anggaran itu bisa disiapkan ruang untuk teman-teman dari kecamatan menampilkan seni budaya,” ujar dia.
Rencana tersebut berkaitan dengan tambahan anggaran Festival Nondoi sebesar Rp100 juta melalui APBD Perubahan 2026. Sebelumnya, Disbudpar PPU menyiapkan Rp200 juta, sehingga total dukungan anggaran yang direncanakan menjadi Rp300 juta.
Meski begitu, konsep pertunjukan belum ditetapkan. Disbudpar masih akan membahasnya bersama pihak terkait setelah anggaran perubahan tersedia.
“Apakah nanti sanggar yang ada di kecamatan yang tampil atau ada kebijakan dari pihak kecamatan untuk menampilkan apa, itu masih kita bahas lebih lanjut. Setelah anggarannya termuat di APBD Perubahan, baru konsep teknis acaranya kita bahas lebih detail,” kata Budi.
Festival Belian Adat Paser Nondoi sendiri mengalami perubahan jadwal dari rencana Oktober menjadi November 2026.
Penyesuaian tersebut juga membuka kemungkinan durasi pelaksanaan bertambah dari rencana awal tiga hari tiga malam menjadi empat hari empat malam, berdasarkan informasi dari pihak adat yang memiliki kewenangan menentukan waktu ritual.














