Kukar — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) menegaskan pentingnya pemenuhan gizi anak sejak dini sebagai langkah krusial dalam mencetak generasi masa depan yang berkualitas. Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menilai intervensi gizi tidak boleh berpusat hanya saat anak mulai memasuki usia sekolah, melainkan harus dimulai sejak fase paling awal kehidupan.
Fokus utama penanganan gizi tersebut menyasar periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang terhitung sejak awal masa kehamilan hingga anak genap berusia dua tahun.
“Kalau kita mau penekanannya, itu adalah gizi 1.000 hari pertama kehidupan,” ujar Aulia saat memberikan keterangan, Senin (12/10/2026).
Aulia membeberkan bahwa strategi Pemkab Kukar dirancang untuk berjalan beriringan dan saling melengkapi dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat. Jika MBG memprioritaskan pemenuhan gizi siswa di bangku sekolah dasar (SD), Pemkab Kukar mengambil peran untuk mengintervensi kelompok usia yang lebih muda.
“Kita beriringan dengan MBG. MBG mengintervensi di level anak SD, sementara kita di fase yang lebih awal,” terangnya.
Menurutnya, penyiapan sumber daya manusia (SDM) unggul memerlukan pendekatan berkelanjutan di setiap tahapan tumbuh kembang. Penguatan gizi di usia dini menjadi pondasi mendasar agar anak-anak siap menerima pembelajaran secara optimal saat memasuki bangku sekolah kelak.
Dalam pemaparannya, Bupati Kukar juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan dan kecukupan gizi yang menjangkau kelompok rentan sebelum kelahiran, termasuk para ibu hamil dan remaja putri.
Pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan kesiapan gizi bagi calon ibu dinilai sebagai investasi jangka panjang dalam menekan angka tengkes (stunting) serta meningkatkan kualitas kesehatan generasi berikutnya.
Meski menitikberatkan pada aspek pencegahan dini, Aulia menegaskan bahwa implementasi program di tingkat daerah tetap membutuhkan penajaman sasaran, kejelasan bentuk intervensi, serta sinergi yang kuat dengan fasilitas layanan kesehatan masyarakat yang ada.
Ia menyimpulkan bahwa keberhasilan pembangunan SDM daerah sangat ditentukan pada bagaimana pemerintah dan masyarakat mengawal fase awal tumbuh kembang anak.
“Pertaruhan pertama kita untuk mempersiapkan generasi masa depan itu adalah di 1.000 hari pertama kehidupan,” tegas Aulia memungkas pemaparannya.














