Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
AdvertorialDaerahPenajamPendidikanPPUTerkini

Festival Belian Adat Paser Nondoi Jadi Cara Memopulerkan Petep

2
×

Festival Belian Adat Paser Nondoi Jadi Cara Memopulerkan Petep

Sebarkan artikel ini

Penajam – Festival Belian Adat Paser Nondoi menjadi salah satu cara untuk mempopulerkan alat musik tradisional Petep di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

 

Plt Kabid Kebudayaan Disbudpar PPU, Aji Luqman Panji, mengatakan Petep merupakan musik tradisional Paser yang melekat digunakan dalam kegiatan ritual Belian.

 

“Petep ini merupakan musik tradisional Paser yang melekat digunakan saat kegiatan ritual, contohnya ritual Belian seperti yang akan dilakukan nanti tanggal 9 November dalam rangkaian Nondoi. Biasanya Petep dimainkan pada saat ritual malam hari oleh Mulung,” ujar Aji, Senin (12/10/2026).

 

Selain sebagai pengiring ritual, Petep juga selalu hadir sebagai penanda dimulainya Festival Nondoi. Pembukaan festival biasanya ditandai dengan pemukulan Petep bersama-sama oleh perangkat daerah dan tokoh adat.

 

“Sebagai pembuka biasanya dilakukan pemukulan Petep bersama-sama,” kata dia.

 

Melalui dua momen tersebut, Disbudpar menilai Nondoi adalah panggung paling efektif untuk mempopulerkan Petep.

 

Masyarakat tidak hanya mendengar iramanya saat ritual, tetapi juga menyaksikan langsung pemukulannya di acara seremonial pembukaan.

 

Tidak cukup dengan Nondoi, Disbudpar telah menggelar sosialisasi kepada guru-guru seni budaya SMA dan SMK se-PPU. Guru diharapkan bisa melanjutkan pengenalan Petep kepada siswa melalui pembelajaran di sekolah maupun ekstrakurikuler.

 

“Petep ini perlu skill tersendiri, ada irama dan ketukannya. Saat ini banyak anak muda hanya sebatas mendengar. Harapan kami generasi muda bisa tau cara memainkannya dengan benar,” jelasnya.

 

Terkait ketersediaan alat, Aji menyebut bahan dasar Petep tidak terlalu sulit, hanya gendang dari kulit hewan yang agak memakan waktu. Terkait apakah produksinya bisa ditambah bahkan dapat distribusikan ke sekolah, Disbudpar akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemangku adat di Kuta Adat mengingat Petep merupakan instrumen sakral. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *