Penajam – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan workshop Petep di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau. Kegiatan ini diarahkan untuk mengenalkan Petep sebagai alat musik pertunjukan sekaligus memperluas regenerasi seni tradisional di kalangan pelajar.
Pamong Budaya Ahli Muda Disbudpar PPU, Budi Setyo, mengatakan workshop tersebut menjadi bagian dari sosialisasi Cagar Budaya dan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Petep yang telah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia akan dikenalkan tidak hanya dalam konteks ritual, tetapi juga sebagai bagian dari pertunjukan seni.
“Petep selama ini dikenal dalam ritual. Sekarang kita ingin menyosialisasikan bahwa Petep juga bisa digunakan sebagai alat musik pertunjukan,” kata Budi, Kamis (24/9/2026).
Workshop tersebut menyasar guru seni tingkat SLTA sederajat se-Kabupaten PPU. Guru menjadi sasaran awal agar pengetahuan dan praktik mengenai Petep dapat diteruskan kepada siswa melalui pembelajaran seni di sekolah.
Budi mengatakan, jenjang SLTA dipilih karena peserta didik pada tingkat tersebut dinilai sudah memiliki dasar pemahaman seni musik yang dapat dikembangkan.
Petep nantinya dapat diperkenalkan sebagai bagian dari instrumen perkusi maupun musik pengiring pertunjukan.
“Kita mulai dari SLTA karena anak-anak di jenjang itu sudah memahami dasar seni musik. Petep bisa dikenalkan sebagai bagian dari perkusi atau pengiring dalam pertunjukan,” ujarnya.
Menurut dia, langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya regenerasi. Petep tidak berhenti sebagai pengetahuan budaya yang diwariskan, tetapi dapat dipelajari dan dimainkan oleh generasi muda dalam ruang seni yang lebih luas.
Petep sendiri telah digunakan dalam sejumlah kegiatan budaya sebagai musik pengiring seni pertunjukan. Pemanfaatan tersebut menjadi salah satu pijakan untuk mengenalkan fungsi Petep di luar konteks ritual.
Workshop rencananya menghadirkan Toto Sudianto sebagai narasumber. Ia merupakan salah satu pihak yang terlibat dalam proses pengusulan Petep sebagai WBTB seni pertunjukan.
Kegiatan dijadwalkan berlangsung pada Jumat di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau dan dirancang setengah hari. Pelaksanaannya akan menyesuaikan waktu salat Jumat, kemudian dilanjutkan hingga sekitar pukul 15.00 WITA.
Workshop tersebut juga dirancang bersamaan dengan kegiatan Pakot Ngeno di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau. Disbudpar ingin kegiatan budaya yang digerakkan masyarakat dapat kembali memiliki ruang dan aktivitas secara berkelanjutan.
“Sekalian kita mendukung Pakot Ngeno. Kegiatan seni budaya yang diprakarsai masyarakat juga kita coba hidupkan kembali,” pungkas Budi.
(Adv)














