Oleh: Muhammad Haikal Faturrahman
Ketua Umum HMI Komisariat FISIP UNMUL
ARTANEWS.ID — Bagi sebagian orang, organisasi hanyalah persinggahan. Tempat mencari teman, memperluas jaringan, atau sekadar mengisi waktu luang. Namun bagi saya, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar organisasi. Ia adalah bintang penuntun jalan, cahaya yang hadir di tengah gelapnya kebingungan anak muda, sekaligus penunjuk arah ketika saya berada di persimpangan hidup.
Saya jatuh cinta pada HMI bukan ketika sudah menjadi mahasiswa, melainkan jauh sebelum itu. Sejak kelas 11 SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), saya mulai membaca sejarahnya, perjuangannya, hingga mengenal tokoh-tokohnya yang kemudian menjadi pemimpin besar negeri ini. Padahal, saat itu saya juga mencoba mempelajari organisasi eksternal lain, menimbang arah, mencari-cari wadah yang sesuai dengan idealisme saya. Namun entah mengapa, hati saya selalu kembali ke HMI. Ada sesuatu yang khas: perpaduan antara Islam, intelektualitas, dan nasionalisme yang begitu utuh, yang membuat saya yakin bahwa di sinilah tempat terbaik untuk berproses.
Karena itu, ketika akhirnya saya masuk kampus, pilihan saya sudah bulat. Walaupun saya tahu bahwa di fakultas saya saat itu HMI sedang berada di masa sulit, sedang berada di titik jatuh, dan tidak sedikit orang yang meragukan apakah ia bisa bangkit kembali, saya tetap memilih bergabung. Justru di situlah saya merasa tertantang, lebih berarti ikut menghidupkan ketika redup, daripada hanya hadir saat gemerlap.
Di HMI, saya belajar bahwa proses tidak pernah instan. Ada suka cita, ada luka, ada perdebatan, ada perbedaan. Semua itu bukan kelemahan, melainkan bagian dari perjalanan membentuk diri. HMI melatih saya untuk berpikir kritis, bersuara lantang, berani menguji nyali, sekaligus melatih hati agar ikhlas bekerja tanpa pamrih. Dari ruang-ruang diskusi, hingga dinamika internal yang kadang keras, saya menemukan bahwa inilah sekolah kehidupan yang sesungguhnya.
Kuliah memang mengajarkan teori, tetapi HMI menghidupkan teori itu dalam praktik nyata. Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, di kelas saya mungkin belajar konsep politik, pemerintahan, kebijakan, tetapi di HMI saya belajar mengelola organisasi, mengendalikan perbedaan, menulis gagasan, hingga berani berdiri di depan umum untuk menyampaikan sikap. Dari sinilah saya memahami bahwa mahasiswa tidak cukup hanya cerdas secara akademis, ia harus kritis dalam bersikap, berani dalam bertindak, dan kokoh dalam nilai.
Sejak awal berdirinya, HMI memang tidak hanya berbicara soal mahasiswa. Ia membawa visi besar: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.” Visi ini bukan sekadar kalimat biasa, melainkan misi peradaban yang diemban setiap insan di himpunan. Di tengah dunia yang semakin pragmatis, HMI hadir untuk mengingatkan bahwa hidup mahasiswa tidak boleh berhenti pada urusan ijazah. Ada tanggung jawab yang lebih besar: membangun bangsa, menegakkan nilai, dan melanjutkan cita-cita kemerdekaan.
Bagi saya pribadi, perjalanan ini adalah cinta yang panjang. Dari SMK hingga kini duduk di bangku kuliah, kecintaan itu tidak pernah padam. Justru semakin dalam, semakin meyakinkan bahwa HMI adalah tempat terbaik untuk tumbuh. Ia mungkin tidak sempurna, kadang bahkan penuh kritik dan cemooh, tetapi bukankah justru di situlah letak nilai perjuangan? Bintang yang bersinar bukanlah bintang yang dilihat hanya ketika langit cerah, melainkan yang tetap ada meski tertutup awan.
HMI adalah bintang penuntun jalan itu. Ia mengajarkan saya berjalan tegak, menolak tunduk pada ketidakadilan, dan terus menyala meski dunia sering gelap. Bagi saya, HMI bukan sekadar pilihan organisasi. Ia adalah pilihan jalan hidup. Jalan panjang yang penuh ujian, tetapi juga penuh makna. Dan di jalan inilah saya percaya, kita akan menemukan diri kita yang sesungguhnya.
Dan pada akhirnya, saya hanya bisa memanjatkan doa:
Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan ampunan-Mu untuk Ayahanda Lafran Pane, untuk Nurcholish Madjid, dan seluruh tokoh yang telah berjuang mendirikan, membesarkan, dan menjaga HMI sepanjang sejarah. Terimalah amal baik mereka sebagai amal jariyah yang tidak pernah putus. Jaga dan kuatkanlah himpunan ini, agar tetap menjadi rumah terbaik bagi kader-kader bangsa, cahaya yang menuntun jalan di tengah gelapnya zaman, serta ladang amal bagi siapa pun yang berproses di dalamnya.
*Opini penulis sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.














