Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
AdvertorialPenajamPPU

Perluas Pengenalan Petep Disbudpar PPU Berharap Alat Musik Paser Ini Diproduksi Lebih Banyak

6
×

Perluas Pengenalan Petep Disbudpar PPU Berharap Alat Musik Paser Ini Diproduksi Lebih Banyak

Sebarkan artikel ini

Penajam – Petep, alat musik tradisional Paser yang lekat dengan ritual adat, berpeluang dikenal lebih luas melalui seni pertunjukan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) berharap alat musik ini tak hanya dimainkan dalam ritual, tetapi juga semakin mudah dijumpai dan dipelajari generasi muda.

Plt Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar PPU, Aji Luqman Panji, mengatakan ketersediaan petep saat ini masih terbatas. Dalam sosialisasi dan praktik memainkan petep bersama guru Seni Budaya, jumlah alat musik yang tersedia belum banyak sehingga penggunaannya masih perlu diperluas.

“Petep ini masih terbatas, biasanya ada di rumah orang atau kelompok tertentu. Harapannya, alat musik ini bisa dibuat lebih banyak dan nantinya dapat diperjualbelikan seperti alat musik tradisional lainnya,” kata Aji, Jumat (10/10/2026).

Petep selama ini digunakan dalam ritual adat Paser, termasuk Belian Adat Paser Nondoi. Dalam perkembangannya, alat musik tersebut juga mulai diperkenalkan untuk mengiringi seni pertunjukan dan menandai pembukaan acara melalui tabuhan petep.

Menurut Aji, peluang memperbanyak petep cukup terbuka. Bahan kayu masih relatif mudah ditemukan, sedangkan bagian membran yang dipukul membutuhkan kulit hewan dan proses pengerjaan yang lebih diperhatikan.

“Bagian yang membutuhkan waktu lebih lama adalah membrannya, karena menggunakan kulit hewan. Untuk kayunya, bahan masih bisa ditemukan. Jadi, kami berharap ke depan petep bisa dibuat lebih banyak,” ujar dia.

Petep dimainkan dalam seni pertunjukan dengan alat musik tradisional lainnya. (istimewa)

Disbudpar PPU berharap pengenalan petep sebagai warisan budaya tak benda dapat membuka minat masyarakat untuk mempelajari cara memainkannya, termasuk memahami ritme dan irama yang digunakan dalam ritual maupun seni pertunjukan.

Festival Nondoi juga diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan petep kepada khalayak yang lebih luas. Pengenalan melalui kegiatan kebudayaan dan sosialisasi kepada guru Seni Budaya menjadi bagian dari upaya agar alat musik tradisional ini semakin dikenal di kalangan generasi muda.

“Harapannya petep semakin familiar. Festival Nondoi bisa menjadi salah satu ajang untuk memperkenalkannya, selain sosialisasi kepada guru-guru Seni Budaya agar pengetahuan tentang petep dapat diteruskan kepada generasi muda,” tutur Aji.

(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *