Artanews.id – Tetesan manis dari masifnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai membasahi urat nadi perekonomian wilayah sekitarnya. Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tercatat menjadi pihak yang paling merasakan dampak positif dari megaproyek tersebut. Fakta menggembirakan ini dibedah secara mendalam dalam forum Jumat Belajar bertajuk “Kupas Tuntas Dampak Ekonomi IKN!” yang digelar secara hibrida di Kantor Balai Kota Otorita IKN, Jumat (26/06/2026).
Forum strategis ini menyedot perhatian lebih dari 200 peserta lintas instansi, mulai dari internal Insan Otorita IKN, Bank Indonesia (BI), Kementerian PPN/Bappenas, Badan Pusat Statistik (BPS) RI, hingga Perwakilan Himpunan Bank Negara di Nusantara.
Untuk membedah data secara komprehensif, panitia menghadirkan tiga pakar kelas wahid: Direktur Perencanaan Makro Otorita IKN Pungky Widiaryanto, Ekonom Senior/Asisten Direktur BI Provinsi Kaltim Azhari Novy Sucipto, serta Direktur Perencanaan Ekonomi Makro Bappenas Ibnu Yahya. Hadir pula Direktur Statistik Industri BPS RI, Pipit Helly Sorayan, yang didapuk sebagai penanggap ahli.
Dalam pidato pembukanya, Deputi Bidang Perencanaan dan Pertanahan Otorita IKN, Mia Amalia, menekankan bahwa pemahaman berbasis data adalah instrumen mutlak agar arah pembangunan IKN terus sejalan dengan misi transformasi ekonomi nasional.
“Kajian ini secara komprehensif memotret dampak ekonomi yang tidak hanya berpusat di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), tetapi meluas hingga Kaltim dan Pulau Kalimantan secara keseluruhan. Analisis di tahap awal ini wajib terus diperbarui secara periodik guna menyokong visi IKN dan Superhub Ekonomi Nusantara (SEN),” tegas Mia.
Pernyataan Mia dibuktikan oleh paparan data di dalam forum. Daya ungkit IKN ternyata sangat signifikan terpusat di Kaltim, wabilkhusus PPU. Angka pertumbuhan ekonomi PPU tercatat meroket tajam di angka 19,9 persen, jauh meninggalkan kabupaten/kota lain di Kaltim. Efek domino ini juga mengerek pertumbuhan Kaltim sebesar 3,7 persen—angka tertinggi dibandingkan provinsi-provinsi lain di Pulau Kalimantan.
Merespons lonjakan tersebut, Direktur Bappenas, Ibnu Yahya, menilai bahwa konsep Tri-City Development (pengembangan tiga kota) IKN mulai menunjukkan tajinya. Ia menegaskan, momentum emas kehadiran IKN dan SEN ini harus dimanfaatkan Kaltim untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada sektor ekstraktif (seperti batu bara dan migas).
“Transformasi ini harus segera diarahkan pada penguatan hilirisasi, pengembangan sektor bernilai tambah, dan peningkatan kompleksitas produksi. Dengan begitu, tren positif ini bisa berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi nasional bisa merangkak naik sesuai target yang kita dambakan,” papar Ibnu.
Kemeriahan diskusi edukatif ini ditutup langsung oleh Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono. Mengusung gaya khasnya yang membumi namun tegas, pria yang akrab disapa Pak Bas ini mewanti-wanti agar rentetan angka makroekonomi yang dibahas tidak sekadar menguap menjadi tumpukan dokumen kajian.
Ia menginstruksikan seluruh unit organisasi di Otorita IKN untuk membumikan data-data makro tersebut menjadi program-program teknis di level mikro yang bisa langsung dieksekusi.
“Hari ini kita belajar makroekonomi, selanjutnya kita harus mampu ‘membunyikan’ ilmu tersebut pada program-program nyata di Otorita IKN,” tegas Basuki.
Menutup arahannya, Basuki sangat mengapresiasi kultur merawat/melestarikan, kegiatan belajar mandiri di lingkungan pemerintahan, terutama Otorita IKN.
“Terima kasih bagi para inisiator dan peserta yang hadir menjaga budaya learning organization ini. Saya sangat percaya, kalau kita berhenti belajar, organisasi yang usianya masih sangat muda ini akan layu dan tidak akan pernah berkembang. Jadi, teruslah belajar!” pungkas Basuki memberikan suntikan moral.














