Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
AdvertorialPenajamPPU

Kenalkan Cagar Budaya hingga Petep, Disbudpar PPU Dorong Sosialisasi Lebih Luas

12
×

Kenalkan Cagar Budaya hingga Petep, Disbudpar PPU Dorong Sosialisasi Lebih Luas

Sebarkan artikel ini

Penajam – Pengetahuan tentang cagar budaya di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masih perlu diperluas, termasuk di kalangan guru. Dalam sosialisasi kebudayaan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Jumat (9/10/2026), masih ada peserta yang belum mengetahui Meriam Jepang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Pamong Budaya Ahli Muda Disbudpar PPU, Budi Setyo, menilai sosialisasi perlu lebih sering dilakukan agar informasi tentang situs, cagar budaya, dan warisan budaya tak benda di daerah menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Dalam sosialisasi kemarin, ada beberapa guru yang belum mengetahui bahwa Meriam Jepang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Ini menunjukkan pengenalan kebudayaan daerah masih perlu diperluas,” kata Budi.

Menurutnya, guru menjadi salah satu sasaran penting karena pengetahuan tentang kebudayaan dapat diteruskan kepada peserta didik.

Pemahaman tersebut juga membantu generasi muda mengenali peninggalan sejarah dan warisan budaya yang ada di daerahnya sendiri.

Dalam kegiatan di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau itu, Disbudpar menyampaikan materi cagar budaya berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010. Pembahasan meliputi pengertian, jenis, kriteria, serta prosedur penetapan cagar budaya.

“Materinya bukan sekadar mengenalkan nama atau lokasi. Kami juga menjelaskan apa yang memenuhi kriteria sebagai cagar budaya dan bagaimana proses penetapannya,” ujarnya.

Sosialisasi juga mencakup warisan budaya tak benda, dengan petep sebagai materi utama. Alat musik yang dikenal dalam ritual tersebut diperkenalkan pula sebagai instrumen pengiring seni pertunjukan.

Budi menjelaskan, peserta tidak hanya mengikuti pemaparan teori dan diskusi, tetapi juga mempraktikkan cara memainkan petep bersama budayawan PPU, Dwi Toto Sudianto, dan tim.

Mereka mempelajari ritme serta irama untuk kebutuhan ritual dan pengembangan dalam pertunjukan seni.

“Respons para guru cukup antusias. Kegiatan seperti ini perlu lebih sering dilakukan supaya mereka semakin mengenal kebudayaan PPU, termasuk perkembangannya,” katanya.

(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *